EdukaseaMy DiaryLog

SIGN OFF: Pengalaman Karantina COVID-19 di Wisma Atlet Pademangan

Pengisian formulir sesaat setelah pesawat landing

Pengalaman turun kapal atau Sign Off dari Hong Kong kali ini berbeda dari pengalaman sebelumnya. Saya perlu menjalani Karantina COVID-19 di Wisma Atlet Pademangan terlebih dahulu.

Sebelum bercerita tentang pengalaman, saya ingin meberi informasi terlebih dahulu. Ada dua Wisma Atlet yang digunakan pemerintah untuk mengkarantina warga di masa COVID-19 ini. Yaitu:

1. Wisma Atlet Kemayoran, (selanjutnya kita sebut: Wisma Atlet) yang berisi pasien konfirmasi positif dan repatriasi Warga Negara Indonesia (WNI). WNI yang pulang ke Indonesia dengan hasil rapid test COVID-19 reaktif atau hasil swab COVID-19 positif.
2. Wisma Atlet Pademangan, (selanjutnya kita sebut: Wisma Pademangan) yang berisi WNI yang pulang ke Indonesia dengan hasil rapid test non-reaktif. Di sini WNI melaksanakan swab test dan dikarantina hingga hasil swab test nya keluar.

Sebelum boarding pesawat dari Hong Kong kami diminta mendownload aplikasi “eHac Indonesia”. Indonesia Health Alert Card adalah aplikasi untuk memantau pergerakan masyarakat yang baru saja pulang ke Indonesia ataupun yang melakukan perjalanan domestik melalui udara.

Ketika boarding pesawat, saya agak kaget ketika masuk pesawat. Ekspektasi saya akan ada pshycal distancing antara penumpang. Setidaknya ada bangku yang sengaja dikosongi di antara dua penumpang. Nyatanya tidak.

Bangku pesawat penuh. Semua kursi terisi. Hanya bagian belakang pesawat menyisakan beberapa bangku kosong. Jadi sesuai pengamatan saya sekitar 90% tempat duduk pesawat penuh terisi.

Penerbangan kali ini dari Hong Kong ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 873 HKG-CGK, penerbangan ditempuh selama sekitar 5 jam.

Pada jam 3 sore pesawat tiba di Bandara Soekano-Hatta. Seluruh penumpang diminta untuk duduk antre untuk mengisi dua formulir.

Pengisian formulir sesaat setelah pesawat landing
Pengisian formulir sesaat setelah pesawat landing

Formulir Putih – Untuk cek kesehatan umum dan pilihan lokasi karantina.

Formulir Kuning – Kartu Kewaspadaa Kesehatan, kartu yang kita bawa untuk proses PCR/swab test dan pemantauan kesehatan ketika kita sudah tiba di kota masing-masing.

Namun jika penumpang telah melaksanakan PCR test di negara keberangkatan, tidak perlu tes atau karantina lagi. Ada jalur khusus untuk memverifikasi surat swab negatif Covid-19. Kemudian penumpang bisa langsung melanjutkan perjalanan.

Kembali ke cerita penumpang yang belum memiliki swab test dari negara keberangkatan.

Setelah formulir terisi kami melalui antrean lagi untuk cek suhu badan menggunakan thermal gun dan tekanan darah. Ada juga Thermal CCTV yang dipasang di depan petugas yang berjaga. Suhu badan penumpang dapat kita lihat dan amati di layar monitor yang terpasang di dinding.

Jika suhu normal, warna yang ditampilkan adalah hitam-putih.

Jika suhu di atas normal, maka akan berubah warna dari kuning menuju merah.

Saya tidak ingat skala warna yang digunakan Thermal CCTV di Soetta, namun untuk suhu normal manusia ada di kisaran 36.5°C – 37°C (WHO).

Kemudian kami perlu antre lagi untuk menjalankan rapid test.

Jika rapid test dinyatakan reaktif, maka kami akan dibawa ke Wisma Atlet atau RS Rujukan.

Jika rapid test dinyatakan non-reaktif, maka kami perlu menjalani PCR test lanjutan dan karantina di Wisma Pademangan.

Kami diberi pilihan untuk karantina di Wisma Karantina Pademangan atau Hotel sembari menunggu hasil PCR test keluar. Diperlukan waktu sekitar 3-4 hari menunggu hasil.

Di Wisma Karantina Pademangan seluruh akomodasi ditanggung pemerintah alias gratis-tis-tis.

Di Hotel kita perlu membayar biaya Rp 700rb per malam, ingat ini dibayar menggunakan ongkos pribadi.

Kalau saya sendiri memilih karantina di Wisma Karantina Pademangan.

Setelah melalui pos imigrasi dan mengambil koper, bus Damri telah menanti kami di luar bandara. Dua tempat duduk hanya untuk satu orang, satu bus hanya terisi dua puluh penumpang.

Karantina COVID-19 di Wisma Atlet Pademangan
Tampak depan gedung Wisma Pademangan

Kami menuju ke Wisma Pademangan beriringan dengan beberapa bus lain.

Kami sampai di gerbang Wisma Pademangan pada jam 6 sore. Tas dan perlengkapan kami diturunkan terlebih dahulu. Lalu disemprot, dengan entah mungkin semacam desinfektan.

Penumpang mengambil barang lalu cuci tangan.

Kami diarahkan ke meja registrasi untuk menerima jadwal PCR test dan kamar karantina. Passpor ditahan sebagai jaminan menempati kamar.

Kelompok kami menerima jadwal PCR test untuk keesokan pagi jam 8.

Untuk kamar berada di Tower 8 nomor 933. Satu kamar diisi tiga orang saja.

Tower 8 diisi oleh Pekerja Migran Pria.

Tower 9 diisi oleh Pekerja Migran Wanita.

Keesokan pagi jam 8 kami melaksanakan PCR test bersama kelompok kami. Alhamdulillah tidak ada kendala.

PCR test tidak sakit seperti yang saya bayangkan. Test nya dengan memasukkan cotton bud panjang ke lubang hidung.

Rasanya seperti kemasukan air ke hidung ketika berenang, tapi tidak sampai ke ubun-ubun.

Tidak sampai 30 detik prosesi PCR test selesai.

Kami diminta untuk menunggu hasil di kamar. Tidak keluar kamar kecuali jika memang dibutuhkan.

Makanan di wisma atlet pademangan
Makanan di wisma atlet pademangan. Selalu ada daging, sayur dan buah. Insyaallah sudah bergizi.

Tiga kali sehari kami mendapatkan jatah makan ditambah snack di pagi hari.

Saya bisa katakan makanan di sini sudah enak. Selalu ada sayur, daging, dan buah. Kalau di warung makan Jakarta harga di kisaran Rp 18rb per porsi.

Di hari ke-3 setelah tes, hasil lab keluar.

Hasil test swab/PCR dengan hasil Negatif, alhamdulillah :)
Hasil test swab/PCR dengan hasil Negatif, alhamdulillah 🙂

Alhamdulillah hasil test PCR saya dinyatakan negatif.

Saya dapat melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman.

Tertulis di “Surat Bebas Covid-19”:

“Terhadap yang bersangkutan tidak perlu dilakukan karantina lagi di fasilitas karantina daerah. Klirens kesehatan diserahkan kepada perangkat desa dengan melibatkan Puskesmas setempat untuk melakukan pengawasan dan pemantauan selama 14 hari di rumah.”

Ada akomodasi Bus yang disediakan menuju ke Bandara Soekarno Hatta hingga jam 7 malam. Ada pula agen Bus Damri ke berbagai tujuan.

Jika ke luar kota? Ada agen penerbangan dan travel yang siap menerima pesanan.

Kalau saya memilih taxi online menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Pesawat saya telah menunggu di sana. Akhirnya saya telah selesai menjalani Karantina COVID-19 di Wisma Atlet Pademangan. 🙂

    Comment here

    Icons made by Freepik from www.flaticon.com is licensed by CC 3.0 BY