Edukasea

Christmas and New Year on Board Sophie Schulte

Bagi mereka rasa ini seperti: tidak berada bersama keluarga di Hari Raya Idul Fitri. Perayaan Natal dan Tahun Baru di Negara lain kurang lebih sama dengan tradisi saat lebaran di Indonesia.

Keluarga yang berada nan jauh di daerah antah berantah dan rindu kehangatan kampung halaman akan kembali pulang. Mereka juga menggelar acara makan-makan dan acara lain untuk mempererat ikatan antar keluarga.

Ada yang baru kali pertama merayakan Natal di kapal. Ada juga yang sudah ke-sekian kalinya.

Sedih?

Sudah pasti bagi mereka. Tapi memang sudah menjadi tanggung jawab dan resiko, para pelaut, untuk mencari nafkah dengan jalan seperti ini. Dengan besarnya pengorbanan. Jarak dan Waktu memisahkan.

Empat kru Indonesia di kapal

Saya turut berempati kepada rekan-rekan saya. Di sini saya belajar memahami dan menghargai masyarakat dunia, dalam skala yang lebih kecil tentunya. Bersama mereka saya diajak melihat dunia. Dan sering kali juga diajak melihat bagaimana Indonesia. Tentunya semua dari sudut pandang dan melalui ‘teropong’ bangsa lain.

Terjawab beberapa hal, apa yang ada di benak dan pikiran bangsa lain jika mendengar “Indonesia”. Ada opini yang baik, ada pula beberapa hal yang masih dapat kita benahi bersama. Kita termasuk dalam masyarakat dunia, harus bisa menerima segala sudut pandang yang diarahkan kepada Ibu Pertiwi beserta anak-anaknya. Kemudian sebisa mungkin mencari solusi untuk mengatasi hal tersebut.

Yang paling utama: Bagaimana harusnya toleransi dan saling menghargai lintas bangsa dan agama diterapkan dan dijunjung.

Kalau saya sendiri, dulu, telah merasakan Natal dan Tahun Baru di Samudra Pasifik. Kali ini kami berada di Teluk Jerman (German Bight), lautan yang mengisi teluk di sebelah utara Negara Jerman. Masih daerah kekuasaan Poseidon bukan ya?

Di kapal kali ini ada tradisi unik.

Kapten menyipakan kado spesial untuk seluruh kru kapal. Ketika Natal nanti akan dibagikan kepada seluruh kru. Kado Natal dan Tahun Baru dari nya. Bagi kami kru kapal yang merayakan Tahun Baru tidak bersama keluarga.

Hadiah-hadiah tersebut dibuatkan lotere. Yang nantinya akan diundi, diambil secara acak.

Ada tas punggung, Bluetooth speaker, headset, earphone, repair kit, seperangkat parfum, pemijat kaki, alat pancing, jam tangan, dan barang menarik lainnya.

Kalau saya sendiri mengharapkan Bluetooth Speaker JBL atau setidaknya headphone untuk gaming.

Saya dulu pernah memiliki Bluetooth Speaker Bose, seharga USD 40 beli di Qingdao, China. Tapi hilang di asrama kampus ketika semester 7 dulu. “Hantu” di asrama memang tidak tahan melihat barang-barang yang bagus.

Tibalah saatnya undian dimulai. Ruang makan kru telah disulap menjadi ruangan dengan nuansa Natal dan Tahun Baru. Dekorasi pita warna-warni menempel di langit-langit beserta bola-bola kecil yang mengkilap, ucapan “Merry Christmas and Welcome 2020” terpasang besar di dinding. Dan tentunya, satu pohon natal di sisi ruangan. Legkap dengan kado dan bingkisan jajanan yang telah ditata rapi di bawahnya.

Satu per-satu kru mengambil nomor undian, termasuk saya. Setelah semua memegang gulungan kertas masing-masing, kami membukanya bersama.

Nomor 22, nomor kado saya.

Ternyata saya dapat satu set perlengkapan perawat janggut!
Hemm . . .

Yasudah, mungkin kalau saya berniat punya janggut ini bisa berguna besok. Foto model yang dipasang dibalik kotak wadah ini adalah seorang lelaki yang terlihat manly sekali, macho dengan janggut yang terawat. Mungkin saja saya bisa bertambah tampan dengan janggut, atau sebaliknya?

Pesta dilanjutkan dengan makan masakan spesial dari Chief Cook, Koki kami di kapal. Setelah selesai makan, lanjut acara karaoke hingga larut malam.

Maaf, maksud saya hingga larut pagi. Tapi saya sudah tumbang duluan di pertengahan acara.

Ketika matahari terbit berikutnya kita telah berada pada permulaan tahun 2020. Tanggal 1 Januari adalah tanggal merah. Hari libur bagi semua kru kapal. Jadi semua orang dapat istirahat dengan nyaman menikmati liburan tahun baru.

Terkecuali bagi kami, Perwira Navigasi 🙂

Suasana di ruang makan kru

Comments (1)

  1. sejenak saya berhenti menatap sebuah blog yang selalu muncul ketika saya membuka suatu hal mengenai pelayaran.
    kala itu, saya sering mengabaikan dan bersikap acuh terhadap hal yang seharusnya penting bagi diri saya.
    hingga ketika keberhasilan teman – teman satu persatu bermunculan, dan diri ini sendiri terlalu terlena menikmati hidup hingga tersadar bahwa sama sekali belum mengambil langkah maju.
    Masya Allah. Terima kasih senior, kakak , atau keluarga.. yang telah menyentil diri saya, sehingga membuka hati dan pikiran saya saat ini.
    Teruskan perjuangan dan kemanfaatanmu. Mohon do’a restu,untuk melangkah ke tahap selanjutnya.

Comment here

Icons made by Freepik from www.flaticon.com is licensed by CC 3.0 BY