Edukasea

Selamat Ulang Tahun, Sahabat Hidup

Mulanya hanya teman SMA biasa.
Orang asing baru yang menjadi teman sekelas di kelas XII IPA 3.
Seseorang yang selalu muncul di pikiran jika ingin merencanakan liburan atau sekedar jalan-jalan.

Saya takut, ketika itu, untuk mempunyai rasa yang lebih. Tidak ingin.

Saya tahu: ikatan persahabatan yang kompak itu sebenarnya akan lebih indah jika dibumbui dengan cinta.
Tapi banyak kasus yang terjadi di sekitar saya sebaliknya.
Jika saling merasa tidak cocok untuk mencintai, maka tidak hanya ikatan cinta tadi yang putus. Ikatan persahabatan itu pula akan sirna.

Jadi sudah saya putuskan dalam hati: Dia tidak akan jadi pacar. Cukup jadi sahabat, untuk jangka panjang.

Untuk pacar atau pasangan hidup, saya cari yang lain saja.

Sekian banyak wanita lain mendekat, belum ada yang cocok.
Tetap dia yang rutin muncul setiap hari di whatsapp.

Suatu ketika dia berencana untuk liburan ke Semarang.
Sudah saya larang sejak awal.
Ada perasaan khawatir muncul.
Khawatir jika terjadi sesuatu dalam perjalanan. Dan khawatir “tembok rasa” yang saya bangun selama beberapa bulan ambrol.

Dia beralasan ini-itu, ya sudah. Terserah dia ingin liburan kemana.
Saya hanya menjanjikan menemaninya nonton konser Sheila On 7 di Universitas Semarang (USM), yang kebetulan sedang manggung di Kota Lumpia. Cukup itu.

Sesaat setelah datang, ternyata dia membawa banyak agenda lain. Sudah browsing banyak lokasi wisata di Semarang.
Padahal saya ingin istirahat saja hari itu. Kasur terlihat lebih menarik.

Dari pagi hingga malam. Dari Umbul Sidomukti di atas puncak hingga Pasar Johar di bawah Kota Semarang. Dari nasi ayam, sego kucing, nasi goreng gongso hingga lumpia dan tahu bakso.
Hmm, saya jadi tergiur membayangkan makanan-makanan itu.

Di malam hari kami menuju USM. Lokasinya di tengah kota Semarang.
Sheila On 7 sudah menunggu kami.

Kami terbius dengan aura romansa senandung Mas Duta, sang vokalis SO7.


“Akhirnya ku menemukanmu”

“Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu”

“Jika kau menjadi istriku nanti
Pahami aku saat menangis”

“Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu”


Entah kenapa, mungkin yang lain juga setuju. Lagu Sheila On 7 tak lekang oleh waktu. Tidak ada kadaluarsanya.
Dan selalu ada kenangan yang terselip di setiap bait dan lagunya.
Kenangan dari masa SD saya hingga saat ini. Dengannya.

Sepulang dari konser kami berjalan pulang. Singkat cerita, terucap kata yang seharusnya tidak boleh diucapkan. Atau mungkin memang harus terucap?
Sebuah kalimat dari hati, ungkapan rasa yang terpendam. Tanpa sebuah tuntutan apapun, hanya ingin dia tahu: ada rasa sayang yang terus berkembang di hati ini.

***

Hingga dia kembali ke Banyuwangi, semua tetap seperti sebelumnya.
Hanya saat itu kami saling memahami dan saling tahu.
Perhatian dan rasa sayang yang kian tumbuh diantara kami.
Kami biarkan mengalir apa adanya tanpa ada hal yang mengikat.

Tiga tahun berlalu semenjak kami kenal lebih dekat saat itu. Kami telah memutuskan: insyaallah melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Sampai saat ini dia masih setia menjadi sahabat saya. Hingga nanti masih akan menjadi sahabat terbaik. Sahabat hidup.

Selamat ulang tahun,
Semoga di bertambahnya usia, kita masih dilimpahi keberkahan dan bisa memberikan manfaat bagi sesama.
Sampai jumpa tahun depan. 🙂

Comments (1)

  1. terimakasih yg selalu bilang makasih dalam keadaan apapun 🙂 💕makasih usahanya bikin disekeliling samean jadi bahagia. semoga Allah senantiasa melindungi kamu,aku dan keluarga besar kita.

Comment here

Icons made by Freepik from www.flaticon.com is licensed by CC 3.0 BY