Edukasea

Segenggam Winter di Irlandia

Ada dua “daerah” yang bernama Irlandia di dunia ini. Yaitu Republik Irlandia dan Irlandia Utara. Dua daerah ini berada dalam satu pulau yang sama, Pulau Irlandia. Terletak di bagian barat daya Negara Inggris. (masih ingat barat daya dimana?)

Irlandia Utara (Northern Ireland) masih menjadi bagian dari Negara Inggris. Salah satu dari empat Negara Bagian United Kingdom of Great Britain bersama dengan England, Scotland, dan Wales.

Sedangkan Republik Irlandia adalah Negara yang secara independen berdiri dengan sistem pemerintahannya sendiri.

Kapal saya sandar di Republik Irlandia ini. Tidak bisa dikatakan sandar sih, tapi Single Point Mooring (SPM) Buoy.

Bisa dikatakan kapal saya terlalu besar untuk daerah ini. Sarat (draught/draft) kapal dapat mencapai kedalaman 15 meter. Karena ada batasan kedalaman minimum di sekitar garis pantai, jadi tidak bisa sandar di pelabuhan. Harus “sandar” di tengah laut. Yang notabene kedalamannya masih aman bagi kapal saya untuk berolah gerak.

Cara kerja SPM kurang lebih seperti ini: jadi ada satu pelampung spesial yang dijadikan tambatan kapal. Pelampung ini memiliki diameter 12 meter dan tertambat 6 buah jangkar di sekelilingnya, menahan pelampung untuk berpindah posisi akibat kencangnya arus atau angin laut.

Haluan kapal (bagian depan kapal) tertambat pada pelampung, sedangkan buritan (bagian belakang kapal) saya ditarik oleh kapal tunda (tug boat). Kapal tunda akan selalu tertambat dan menarik seperlunya hingga proses bongkar/muat selesai dan kapal saya lepas sandar.

Lokasi SPM kali ini tepatnya terletak di Bantry Bay, Teluk Bantry. Teluk yang terletak di bagian selatan Republik Irlandia.

Ada pipa minyak yang menjulang dari pangkal pelabuhan hingga lokasi SPM. Pipa panjangnya sekitar 800 meter dan “terbaring” di dasar laut. Digunakan untuk mengalirkan muatan minyak dari kapal menuju kilang, atau pun sebaliknya.

Bantry bay town square

Suhu siang hari berkisar 10° C dan malam mencapai 6° C. Memasuki musim dingin – winter, angin kencang dan ombak lebih besar silih bergantian menghampiri teluk. Di pagi hari dapat kita temukan embun-embun yang telah mengkristal, menjadi es. Membuat jalanan menjadi licin.

Alhamdulillah kali ini saya bisa pesiar ke kota. Bersama Kapten, Kepala Kamar Mesin (KKM), Electrician, dan dua orang Cadet asal Indonesia: Niko dan Yudha. Kami menyewa boat kecil untuk mengantarkan kami dari kapal menuju ke kota. Pulangnya pun akan sama.

Cukup susah untuk menukarkan uang dari US Dollar ke Euro di sini. Kebanyakan Bank hanya menerima penukaran bagi nasabah saja. Pun beberapa tempat penukaran uang lain hanya menerima konversi dari Euro ke US Dollar, namun tidak bisa sebaliknya.

Teman saya pun memiliki cerita yang sama di Negara European Union lain. Jadi saran saya: siapkan Euro yang cukup sebelum berpergian ke Negara Eropa. Atau tukar uang anda di Currency Exchange ketika masih di bandara.

Kota Bantry adalah kota yang kecil. Namun tertata dengan sangat rapi. Kolam di taman kota telah membeku. Beberapa puing es-nya berserakan di sekeliling kolam, ibarat pecahan kaca.

Kami mengunjungi pusat kota dan gereja ST Finbarr’s (maaf kalau ternyata salah eja). Embun-embun yang menempel di rumput sekitar gereja juga telah membeku sore ini. Menambah indah pemandangan menakjubkan bagi kami, si orang kulit tropis.

Nyoklat di The Bake House. Bersama Yudha & Niko.

Menjelang petang, kami sempatkan berkunjung ke kedai kopi & kue di pinggir jalan utama, “The Bake House”. Saya masih memiliki uang 10 Euro di kantong, sisa ketika layover di kontrak lalu. Hanya bisa untuk memesan tiga gelas coklat panas untuk kami bertiga. Syukur Alhamdulillah.

Akhirnya pada jam 18:00 kami harus kembali ke kapal. Estimasi muat akan selesai pada esok pagi hari. Lalu kapal akan kembali berlayar menuju pelabuhan selanjutnya untuk membongkar muatan: Wilhelmshaven, Jerman.

Bantry Bay, terlihat dari kapal.

Comment here

Icons made by Freepik from www.flaticon.com is licensed by CC 3.0 BY