Edukasea

Pandu Terbang Jerman

Apa yang terbesit di pikiran anda ketika saya katakan “Jerman”?
. . .
Saya sendiri teringat Anime “Captain Tsubatsa” ketika kesebelasan Jepang melawan Jerman di Piala Dunia. Ketika Tsubatsa dan kawan-kawannya bersusah payah menjebol gawang kiper andalan Jerman: Deuter Muller. Ahh memories . . . kartun generasi 90-an memang yang terbaik. *skip

Dan – Ich liebe dich . . .

Satu dari sekian kata dalam Bahasa Jerman yang masih saya ingat, dari pelajaran SMA dulu. Belajar dari guru Bahasa Jerman terbaik saat SMA: Mrs. Rahayu dan Mr. Ruston.

Pelabuhan Crude oil Wilhelmshaven

Bagaimaa kalau saya mengatakan “Wilhelmshaven”?

Wilhelmshaven, adalah pelabuhan saya kali ini. Adalah kota yang menjadi markas dan pelabuhan Angkatan Laut terbesar di Negara Jerman. Ketika Perang Dunia ke-II dulu, pasukan sekutu membombardir dua-per-tiga gedung-gedung di kota ini. Target utama mereka adalah galangan kapal Angkatan Laut Jerman saat itu.

Bisa anda temukan cuplikan sejarah kota ini di Küstenmuseum Wilhelmshaven, museum yang memetakan 150 tahun sejarah awal kota ini lahir hingga menjadi markas Angkatan Laut Jerman.

Pun Wilhelmshaven menjadi pelabuhan utama untuk impor minyak mentah di Negara Jerman. Sepanjang alur pelayaran menuju dermaga sandar, berjejer kilang minyak dan kapal-kapal yang sedang membongkar muat.

Kali ini kami membongkar minyak mentah yang kami muat di Irlandia sebelumnya. Kami sandar di pelabuhan dalam alur sungai. Masih dalam kondisi winter, suhu siang hari 11°C dan malam 8°C. Ditambah kondisi berkabut di sepanjang hari.

Yang menarik pula adalah Pandu di pelabuhan ini semua diantar oleh helikopter! Pun ketika pandu turun dari kapal juga dijemput helikopter. Yang biasanya di pelabuhan lain hanya diantarkan oleh boat kecil. Ada persyaratan dan persiapan khusus bagi kapal yang menggunakan jasa pandu yang naik atau turun menggunakan helikopter. Seluruhnya harus mengacu pada buku: ICS Guide to Helicopter Ship Operation.

Di Indonesia apa ada pelabuhan yang pandunya diantar-jemput helikopter ya?

Pandu disembark dengan helikopter

Di Jerman kali ini saya tidak pesiar. Dikarenakan waktu sandar (port stay) yang sebentar. Waktu luang saya gunakan untuk istirahat, untuk mengisi tenaga tugas jaga bongkar shift berikutnya. Lagipula cuaca di luar tidak mendukung, berkabut dan kadang diselingi gerimis syahdu.

Bisa dibayangkan bagaimana jika kulit tropis terpapar suhu dingin, dengan pakaian basah, dan ditambah angin kencang. Mungkin akan sakit flu seketika.

Setelah lepas sandar, belum ada perintah tujuan pelabuhan berikutnya. Kapten memutuskan untuk berlabuh jangkar di area labuh jangkar laut dalam, di Teluk Jerman (German Bight).

Biasanya awak kapal sangat senang sekali jika kapal berlabuh jangkar. Bisa menyalurkan hobi memancing. Di kontrak sebelumnya, saya memancing di Negara Chile. Bersama awak kapal lain, kami mendapat dua ember besar penuh kepiting (warna cangkang merah, tidak tahu jenisnya apa) dan beberapa ekor ikan yang juga gurih dimasak.

Tapi dengan kondisi winter yang sekarang, awak kapal lebih memilih untuk menghangatkan tubuh di dalam akomodasi. Dan menunggu momen menjelang hari Natal tiba bersama. Saya ikut nimbrung mendengar cerita ketika perayaan Natal di keluarga mereka.

Jika tidak ada teman untuk diajak mengobrol, saya lebih memilih istirahat di dalam kamar. Setelah kesibukan bongkar-muat di pelabuhan Eropa, meluruskan tulang punggung di atas Kasur adalah ide yang sangat bagus.

Comment here

Icons made by Freepik from www.flaticon.com is licensed by CC 3.0 BY